Info

Kartini: Hakikat Islami dan Kemanusiaan

22 April 2026
Muchlis
Kartini: Hakikat Islami dan Kemanusiaan
Raden Ajeng Kartini sering kali dicitrakan hanya melalui kacamata emansipasi Barat. Namun, jika kita menyelami lebih dalam pemikiran-pemikirannya—terutama dalam surat-suratnya kepada sahabat-sahabatnya—terdapat benang merah yang sangat kuat antara perjuangannya dengan hakikat nilai-nilai Islami.
Berikut adalah ulasan mengenai sosok Kartini dalam bingkai spiritualitas dan kemanusiaan Islam.
1. Semangat "Minaz Zhulumati ilan Nuur"
Salah satu kutipan Kartini yang paling ikonik adalah "Habis Gelap Terbitlah Terang". Secara harfiah, kalimat ini merupakan terjemahan dari potongan ayat Al-Qur'an:

"...yukhrijuhum minaz zhulumati ilan nuur" (Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya). — QS. Al-Baqarah: 257

Kartini mendambakan transisi dari kegelapan (kebodohan, adat yang mengekang, dan ketidakadilan) menuju cahaya (ilmu pengetahuan dan martabat). Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban (faridhoh) bagi setiap Muslim, tanpa memandang gender. Kartini menjalankan hakikat ini dengan memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan agar mereka bisa menjadi madrasah pertama yang cerdas bagi anak-anaknya.
2. Pencarian Makna melalui Al-Qur'an
Kartini memiliki rasa haus yang besar terhadap makna di balik ayat-ayat suci. Beliau sempat merasa gelisah karena selama ini hanya diajarkan membaca Al-Qur'an tanpa memahami artinya.
Kehadiran Kiai Sholeh Darat, seorang ulama besar dari Semarang, menjadi titik balik spiritualnya. Kiai Sholeh Darat menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa (Tafsir Faidhur Rahman) atas kegelisahan Kartini. Inilah hakikat Islam yang diinginkan Kartini: Islam yang dipahami, bukan sekadar dihafal secara ritual.
3. Emansipasi sebagai Bentuk Keadilan (Adl)
Dalam pandangan Islam, laki-laki dan perempuan adalah mitra (awliya) yang memiliki derajat yang sama di hadapan Allah dalam hal ketakwaan. Kartini tidak menuntut perempuan untuk menjadi "laki-laki", melainkan menuntut agar perempuan diberikan hak yang sama untuk berkembang.
• Pendidikan: Agar perempuan tidak mudah ditipu dan bisa mandiri.
• Kehormatan: Menentang praktik poligami yang dilakukan secara sewenang-wenang tanpa mengindahkan perasaan dan hak perempuan, yang selaras dengan prinsip keadilan dalam pernikahan Islami.
4. Akhlak sebagai Puncak Perjuangan
Meskipun Kartini mengagumi kemajuan pemikiran Barat, beliau tetap kritis. Beliau tidak ingin perempuan pribumi kehilangan jati diri dan etika timurnya. Inilah hakikat Akhlakul Karimah.
Bagi Kartini, kepintaran tanpa moralitas adalah kesia-siaan. Ia ingin mencetak generasi perempuan yang modern secara intelektual, namun tetap rendah hati dan berbakti kepada kemanusiaan—sebuah manifestasi dari konsep Rahmatan lil 'Alamin.
Kesimpulan
Perjuangan Kartini adalah bentuk ijtihad sosial pada zamannya. Beliau membuktikan bahwa menjadi Muslimah yang taat bukan berarti harus terbelakang. Justru dengan menyelami hakikat Islam yang benar, seorang perempuan akan menemukan kekuatan untuk memecahkan belenggu kebodohan dan menjadi pelita bagi bangsanya.
Kartini bukan sekadar tentang kebaya dan sanggul; beliau adalah simbol tentang bagaimana iman harus membuahkan ilmu dan kemajuan.