Ketika berkunjung ke Arafah, hampir setiap jamaah akan singgah di sebuah bukit kecil yang dikenal dengan Jabal Rahmah. Dalam bahasa Arab, Jabal berarti bukit, sedangkan Rahmah berarti kasih sayang atau rahmat. Tak heran jika tempat ini sering disebut sebagai Bukit Kasih Sayang.
Banyak kaum muslimin mengenal Jabal Rahmah sebagai tempat yang diyakini dalam tradisi Islam sebagai lokasi bertemunya kembali Nabi Adam 'alaihissalam dan Sayyidah Hawa setelah keduanya diturunkan ke bumi. Walaupun tidak ada dalil sahih yang secara tegas menetapkan lokasi tersebut, kisah ini telah menjadi simbol tentang indahnya taubat, harapan, dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Namun, ada satu peristiwa yang memiliki dasar sejarah yang jauh lebih kuat dan sangat berkaitan dengan kawasan Arafah.
Di sinilah, pada saat Haji Wada' (Haji Perpisahan), Rasulullah ﷺ menyampaikan khutbah terakhir beliau kepada lebih dari seratus ribu sahabat. Tanpa disadari para sahabat saat itu, itulah haji terakhir yang dilakukan Rasulullah sebelum beliau wafat beberapa bulan kemudian.
Dalam khutbah tersebut, Rasulullah ﷺ menyampaikan pesan-pesan yang menjadi pedoman hidup umat Islam hingga akhir zaman.
Beliau menegaskan bahwa darah, harta, dan kehormatan setiap muslim adalah sesuatu yang suci dan tidak boleh dilanggar. Beliau menghapus praktik riba, melarang segala bentuk kezaliman, mengingatkan agar kaum wanita diperlakukan dengan baik, serta menegaskan bahwa semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak ada keutamaan orang Arab atas non-Arab, ataupun sebaliknya. Tidak ada kelebihan seseorang karena warna kulitnya. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya kepada Allah.
Di akhir khutbah, Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat,
"Bukankah aku telah menyampaikan risalah ini kepada kalian?"
Seluruh sahabat menjawab,
"Benar, engkau telah menyampaikannya."
Maka Rasulullah ﷺ mengangkat jari telunjuknya ke langit seraya berdoa,
"Ya Allah, saksikanlah. Ya Allah, saksikanlah. Ya Allah, saksikanlah."
Membayangkan momen tersebut membuat hati bergetar. Di tanah yang sama tempat jutaan jamaah wukuf setiap tahun, Rasulullah ﷺ meninggalkan warisan terbesar bagi umatnya: agama Islam yang sempurna.
Allah kemudian menurunkan firman-Nya:
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu."
(QS. Al-Ma'idah: 3)
Karena itu, ketika kita berada di Jabal Rahmah atau Arafah, jangan hanya sibuk mengabadikan momen dengan kamera. Luangkan waktu untuk mengingat perjuangan Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan risalah Islam hingga agama ini sampai kepada kita hari ini.
Lebih dari itu, nama Jabal Rahmah sendiri mengajarkan satu pelajaran yang sangat indah.
Rahmat Allah selalu lebih luas daripada dosa-dosa kita.
Tidak ada manusia yang sempurna. Kita semua pernah melakukan kesalahan, pernah lalai, pernah jauh dari Allah. Namun selama pintu taubat masih terbuka, jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya.
Semoga setiap langkah kita menuju Tanah Suci bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati. Semoga Allah menerima taubat kita, mengabulkan doa-doa kita, serta mengembalikan kita ke tanah air sebagai pribadi yang lebih dekat kepada-Nya.
Labbaik Allahumma Labbaik...